RESUME
SPEAK TO CHANGE

Pernahkah Anda merasakan ketidakjelasan dari seorang pembicara yang pembicaraannya ‘ngalor-ngidul’ entah ke mana sampai Anda pusing menerjemahkan maksudnya? Atau Anda sendiri mengalami ketika ‘ditodong’ berbicara di depan audiens, merasakan kosong pikiran dan kehilangan kata-kata tidak tahu apa yang akan dibicarakan? Hal ini sepertinya tidak perlu terjadi ketika Anda sudah mempunyai trik dalam berbicara di depan public. Banyak contoh yang ditampilkan dengan besarnya pengaruhnya sebuah kalimat yang dapat mengubah mindset seseorang, dapat menggerakkan massa, dapat mengubah nasib sebuah bangsa bahkan sebuah kalimat dapat mengubah masa depan dunia.
Keahlian dalam berbicara ditunjang oleh beberapa faktor. Dalam bukunya Speak To Change yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka, guru saya Pak Jamil Azzaini membahas bahwa sesorang memerlukan Personal Branding sehingga menjadi Remarkable People. Apa yang membedakan Anda dari pembicara lainnya? Hal ini perlu Anda gali keunikan yang ada pada diri Anda. Ketika Anda mendengar tentang cerita Anda orang akan mengingat Anda. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi pembicara yang mengubah.
Buku yang diterbitkn 21 Desember 2015 dan terdiri dari312 halaman ini juga memuat beberapa langkah yang dilakukan untuk menjadi Pembicara Speak To Change:
1. Brand Discovery. Tentukan target yang ingin diraih, Pertama, Mulailah untuk mengasah keunikan/spesialisasi yang Anda kuasai sehingga Anda lebih menonjol dari orang lain dan gunakan kekuatan diri Anda itu. Cara kedua dengan meminta pandangan orang lain tentang apa kelebihan Anda dan siapa fans Anda
2. The Power of Community. Jangan remehkan kekuatan komunitas. Kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan nilai-nilai yang sama akan memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Secara personal seseorang yang mengikuti sebuah komunitas positif akan berkembang pesat.
3. Komunikasikan. Setelah mengetahui , barulah mempersiapkan rencana dan tools kits. Tools kits bisa kita pakai online dan offline untuk mengumpulkan fans kita. Secara online kita bisa menggunakan facebook, linkedin, Instagram, blog pribadi, dan lain-lain. Setiap jalur komuniksi harus saling melengkapi.
Berbicara itu bukan hanya merangkai kata, kalimat namun ada seninya
Teknik Speak To Change:
Rumus =Me x Delivery x Content

Me adalah diri kita yang perlu dibenahi agar ketika tampil tidak hanya polesan saja tetapi memang sudah inner beauty. Delivery merupakan teknik untuk menyampaikan sehingga bisa menancap di alam bawah sadar mereka. Dan Content biasa kita sebut materi, pesan yang akan diuraikan. Ketiganya perlu diplah sedemikian rupa sehingga diri personal Anda menjadi ikon pada setiap pembicaraan yang tersusun sistematik.
Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. ME, terdiri dari Be Brave, Walk to Walk, Be Yourself.
2. CONTENT, terdiri dari Systematic, Enrichment, Value
3. DELIVERY, terdiri dari 4 Tif, WOW, Opening, Closing

A. Komunikasikan Personal Integrity Anda: Bangun reputasi Anda dengan prestasi dan aksi nyata, bukan dengan sibuk promosi, namun lambat laun kehilangan sahabat terbaik Anda. Sibukkanlah dengan karya nyata.
B. Perkenalkan diri Anda dalam 30 detik. Untuk memperkenalkan diri Anda usahakan dalam 30 detik sudah termasuk memperkenalkan brand Anda dari mulai nama, tempat kerja, buku yang ditulis/prestasi dan aktifitas saat ini. Silakan Anda praktekkan dengan teman Anda. Ilmu brologue juga dapat digunakan untuk memperkenalkan diri dalam situasi penting yang terbatas waktu dengan rumus Positioning + Portofolio + Prodiktifitas
Contoh perkenalan 30 detik: Perkenalkan nama saya Yeti Sulfiati, dikenal dengan Yeti Insan Kamil. Saya suka menginspirasi orang lain dalam setiap kesempatan sebagai Publik Speaker mau pun dalam setiap tulisan saya. Saya baru menulis 5 buku dan 2 buku ghostwriting. Rutinitas sehari-hari saya mengajar di MAN 1 Kota Bekasi dan mengelola sebuah sekolah TK TPA Qurrotu A’yun di Bekasi. (sambil menjabat tangan kenalan baru). Silakan Anda praktekkan.
C. Ciptakan Gaya Khas Anda. Dari gagasan gesture dan gaya khas Anda membuat audiens akan teringat dan tidak perlu mencopas gaya orang lain ketika berbicara. Seperti ketika kalimat…Jamillll…sambil menekukkan tangan di dada. Orang akan teringat itulah gaya Jamil Azzaini ketika manggung.
D. Ekspresi Tatap Senyum. Ada tips dari Akademi Trainer ketika berbicara di depan audeins, Bagilah kontak mata , Senyum, Kekuasaan tetap tenang, Bergeraklah saat berbicara, menggerakkan tangn, tegakkan punggung dan dorongan berpartisipasi.
E. Value dalam materi. Sebuah materi menjadi berbobot ketika menyentuh pikiran, hati dan menggerakkan. Untuk itu, Anda perlu memasukkan value atau nilai kehidupan dalam materi yang Anda siapkan. Seteknis apapun materi Anda, jangan lupa berikan value yang bisa menginspirasi dan mengubah kehidupan seseorang sehingga materi Anda menjadi berharga baginya.
F. Menyajikan kalimat yang bernyawa. Jangan remehkan sebuah kalimat. Mengapa? Karena, kalimat bisa menentukan suatu pekerjaan berdosa atau berpahala. Kalimat bisa juga menentukan suatu aktivitas berkah atau tidak. Bahkan, sebuah kalimat bisa menjadi pembuka kebaikan atau keburukan. Cobalah cari kata bermakna, kata mutiara, kata bijak dan sejenisnya dan kemudian setelah itu, perluaslah penjelasannya agar materi bicara Anda semakin kaya
G. Merangkai alur yang dramatis. Apa yang Anda rasakan ketika mendengar seorang pembicara yang berutar-putar omongannya istilahnya “mbulet” tidak jelas mau ke mana? Maka sebaiknya, setelah Anda mendapatkan ide, sebaiknya Anda segera membuat struktur materi presentasi satu lembar. Ya, hanya satu lembar untuk memudahkan otak Anda menstrukturkan materi. Saat pembuatan struktur materi ini yang Anda munculkan hanya kata-kata kunci saja
H. Deliberate Practice. Menurut riset di Berlin Academy Of Music, untuk mencapai tingkatan ahli kelas dunia seseorang harus memiliki 10 ribu “jam terbang”. Tapi bukan berarti cukup dengan menghabiskan waktu selama itu lantas kita otomatis menjadi ahli di bidang yang kita geluti. Sepuluh ribu jam itu adalah waktu yang dihabiskan untuk melakukan deliberate practice.Tetapi, jam terbang dihitung berdasarkan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan kegiatan yang terarah dan terukur (deliberate practice).
I. Enrichment. Semua orang dalam bidang apapun memerlukan pengayaan baik materi, teknik maupun mentalspiritual. Membaca kitab suci atau buku-buku bermutu seharusnya dilakukan setiap hari. Berguru kepada orang berilmu secara tatap muka sebaiknya dilakukan setiap pekan.
Selain itu, kita perlu memiliki anggaran khusus untuk enrichment baik dalam kurun beberapa bulan atau setidaknya setahun sekali seperti halnya ikut acara Speak To Change di Akademi Trainer Kedua misalnya. Ada orang yang enggan melakukan enrichment dengan alasan, “Ngapain ikut acara gituan, paling juga dampaknya hanya bertahan beberapa hari.” Ada jawaban sederhana untuk alasan itu. “Kalau begitu tidak perlu mandi, besok kotor lagi.” Hehehe.

Selain menambah inspirasi baru, enrichment bisa mengganti ide, gagasan, atau pemikiran yang sudah usang dengan sesuatu yang baru. Dunia terus berubah dan berkembang, bila kita enggan melakukan enrichment bersiap-siaplah dilindas zaman.

Bersiaplah menjadi Pembicara yang Mengubah Dunia. Anda dapat mempelajarinya melalui Buku Speak To Change karya Jamil Azzaini dapatkan di toko buku Gramedia.
Salam Insan Kamil.