Salam jumpa kembali sahabat Insan Kamil,

 

Bagaimana kabarnya? Saya doakan semoga Anda selalu dalam keadaan semakin baik dari hari ke hari.

 

Anda mungkin pernah merasakan bagaimana setelah mengikuti training tapi kurang memberikan dampak bagi organisasi. Anda mungkin juga berpikir untuk apa membayar mahal sebuah training tapi yang diingat hanyalah seru seruannya saja? Mana impact-nya bagi Anda secara permanen?

 

Selama 2 hari pelatihan Training Effectiveness Evaluation, saya mendapatkan suatu paradigma baru, tentang sebuah pelatihan yang efektif dan terukur untuk improvement dalam proses berkelanjutan.

 

Sepanjang 2 hari dari pukul  9 sampai 17 sore di Hotel Cordela, saya beserta 2 perserta lainnya menikmati training membuka wawasan dunia pelatihan yang up to date.

 

Pelatihan yang biasanya berkutat hanya menilai kompetensi pesertanya saja , ternyata Kirkpatrick mengubah cara berfikir dunia dengan model New World Kirkpatrick , model pelatihan yang tidak hanya terkonsentrasi di level 1 dan 2 saja. Tapi berpikir analisis secara holistik, menyeluruh dan tepat sasaran, secara level 3 dan 4.

 

Ibarat seorang pasien yang datang ke dokter untuk minta obat demam. Dokter tidak langsung memberikan paracetamol, namun langkah awalnya dengan memeriksa fisik dan laboratorium. Dari hasilnya barulah dokter memberikan rekomendasi obat yang sesuai diagnosis, bukan hanya memberikan obat pereda gejala demam tapi juga untuk mengobati sumber penyakitnya.

 

 

Mungkin Anda pernah mengikuti pelatihan dan di akhir acara Anda diminta untuk mengevaluasi pembicara, materi, metode, perlengkapan, ruangan.  Itulah evaluasi level 1 (reaksi). Sedangkan Anda diminta untuk mereview kembali materi pelatihan tentang apa yang  didapat pada pelatihan, itulah level 2 (kompetensi)

 

Lalu di mana level 3 nya? Di mana pula level 4 nya?

 

Sebuah organisasi yang mengedepankan kinerja karyawannya akan memperhatikan pula performance dalam level 3 dilihat Behavior nya. Sehingga pelatihan itu berdampak di luar kelas. Ketika seorang konsultan /provider training  menangani di Level 3, ia akan tetap memonitor hasil setelah pelatihan dengan monitoring, mentoring dan coaching untuk mengimprove kinerja peserta. Dan di level ini akan dievaluasi level 3.

 

Bagaimana kenaikan kinerja, produktivitas hingga sampai kepada profit organisasi? Itulah yang dibahas di level 4. Bagaimana sebuah training bukan sekedar pembelajaran di kelas tapi setelah itu ada evaluasi, follow up dan dimonitor hingga evaluasi dihitung seberapa besar tingkat kontribusi training terhadap kenaikan profit organisasi.

 

Maka, evaluasi model ini  top management/user/klien melibatkan konsultan training sebagai partner dalam bertumbuh untuk waktu tertentu.

 

Proses yang dilakukan sebelum diadakannya training, dengan observasi data awal yang melibatkan management dan orang-orang yang terlibat dalam proses goal bisnisnya. Inilah level 4

 

Setelah mengetahui tujuan, bagaimana gap dengan realitanya, langkah selanjutnya mem break down ke level 3 nya. Bagaimana kinerjanya, bagaimana job desk nya, apa saja faktor yang mempengaruhi masalah.

 

Di level 3 ini akan diketahui, apa saja faktor penghambat dan kompetensi apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan performance sehingga dapat direkomendasikan training apa saja yang penting dilakukan.

 

Hal ini berbeda dari kebiasaan selama ini. Ketika seorang klien atau organisasi meminta sebuah training, provider langsung mendesain training tersebut tanpa menganalisis level 4 dan 3 nya. Padahal kalau di model New World Kirkpatrick, mendesain training seperti ini termasuk tahapan lanjutan sebagai level 2. Dan kompetensi di level 2 ini merupakan hasil analisis level 4 dan 3.

 

Di level 2 Anda sudah mendapatkan rekomendasi, kompetensi apa saja yang perlu ditingkatkan dan training apa saja yang tepat diselenggarakan.

 

Contohnya, sebuah sekolah ingin mengadakan training Teknik Mengajar dengan asumsi nilai siswa menurun karena guru tidak bisa mengajar. Lalu dilakukan analisis level 4 tentang visi misi sekolah, tujuan dan program tahunan hingga pendapatan dan anggaran sekolah.

 

Di level 3 diadakan analisis terhadap 7 hal yang mempengaruhi kinerja guru, seperti kejelasan job desk, sistem penggajian ,rewads, sarana prasarana perangkat pembelajaran, motivasi, dan pembinaan untuk peningkatan mutu guru. Setelah dianalisis ternyata tingkat kepuasan terhadap gaji sangat rendah. Misalnya. Sehingga yang diperlukan adalah perbaikan sistem penggajian terlebih dahulu.

 

Maka, konsultan akan mereview analisisnya tentang perlu tidaknya sebuah training, dan training apa saja yang tepat dilaksanakan.

 

Model ini, menginspirasi bahwa :

1. Tindakan keputusan dan kebijakan kompetensi level 2 dilakukan berdasarkan analisis level 4 dan 3.

 

2. Tidak semua masalah diselesaikan dengan training, namun bisa dengan mentoring, rewards, coaching

 

3. Biaya pengembangan SDM dapat ditekan dengan menerapkan On The Job Learning. Setiap tugas didesain sebagai pembelajaran.

 

4. Semua organisasi baik perusahaan, sekolah maupun keluarga memerlukan  evaluasi menyeluruh dimulai dari level 4 result, 3 performance, 2 kompetensi, dan 1 reaksi.

 

5. Dengan melakukan evaluasi model ini, Anda bukan hanya mendesain sebuah training tapi juga menganalisis seluruh kebutuhan organisasi untuk tumbuh berkembang.

 

Demikianlah sharing training Effektiveness Evaluation, yang membawa perubahan cara menangani sebuah masalah secara menyeluruh dan tepat.

 

Salam Insan Kamil,

Yeti Sulfiati,

Teacher Inspirator