Bismillah….

qoola asy Syaikh Ibn Athaillah ra, dalam buku Al Hikam

 

“Ma’shiyatun ‘auratsats dzullan wa aftiqaaran khairun min thaa’atin ‘auratsatst ‘izzan wastikbaran. ”

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Alloh, lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri

Abu Mad-yan ra berkata, perasaan rendah diri seseorang yang telah berbuat maksiat dosa itu lebih baik dari kesombongan seseorang yang telah merasa berbuat taat, adakalanya seseorang hamba berbuat kebaikan (hasanat) lalu menimbulkan rasa ujub sombong sehingga dapat menggugurkan segala amal2 yg sebelumnya dan pula seseorang telah berbuat dosa yang sampai menyedihkan hatinya sehingga timbul rasa takut kepada Alloh dan menyebabkan keselamatan dirinya .

” Tawâdla ‘idzâ mâ nilta fin nâsi rif’atan, fa inna rafi’al qaumi man yatawâdla’u.”

Rendah.hatilah apabila kamu.dimuliakan orang karena orang yg paling mulia adalah orang yg rendahhati.

Memahami kitab ini . Orang tersebut bisa jadi insan kamil (insan yg sempurna dan menyempurnakan ) insan kamil artinya itu
Insan kamil : insan yg sempurna dan menyempurnakan ..
Diatas insan kamil .. Ada insan kamil mukkamil
Insan kamil mukkamil : insan yang sempurna dan menyempurnakan ..
TAHAPAN  MENUJU INSAN KAMIL

Dalam tahapan manusia menuju Insan Kamil mukkamil, menurut  AlFarabi ada beberapa  tahap :
– Fana ‘an al-Mukhalafat ( sirna dari segala dosa ).
– Fana ‘an af’al al-‘ibad ( sirna dari tindakan-tindakan hamba ), menyadari bahwa segala tindakan manusia pada hakikatnya dikendalikan oleh Tuhan.
– Fana ‘an sifat al-makhluqin ( sirna dari sifat-sifat makhluk.
– Fana ‘an kull az-zat ( sirna dari persoalan diri ). Pada tahap ini sufi menyadari non-eksistensi dirinya.
– Fana ‘an kull al-‘alam ( sirna dari segenap alam ). Menyadari bahwa segenap aspek alam fenomenal ini pada hakikatnya hanya khayal.
– Fana ‘al kull ma siwa ‘l-lah ( sirna dari segala sesuatu yang selain Allah ).

INSAN KAMIL SEBAGAI MIKROKOSMOS (RUH DARI MAKROKOSMOS)

• Ruh berperan sebagai pengatur (rububiyah) terhadap badannya, disadari atau tidak.
• Jasad/materi tidak bisa mengubah dirinya. Jika asumsinya bahwa materi sebagaimana materi dapat mengatur dan merubah nutrisi menjadi rambut, kuku, darah, dst maka binatang, tumbuhan dan batu pun seharusnya memiliki karakter yang sama dengan manusia karena semuanya berasal dari butrisi.
• Insan kamil adalah ruh sedangkan alam semesta adalah badannya. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makrokosmos dan alam semesta adalah mikrokosmos.
• Oleh karena itu, alam semesta bergantung pada insan kamil, baik dalam keabadiannya maupun dalam kehancurannya. Sebagaimana badan manusia bergantung kepada ruhnya. Selama ruh manusia masih berada dalam tubuhnya maka tubuh tersebut memiliki kehidupan, namun disaat ruh meninggalkan tubuhnya maka pada saat itu tubuhnya tak memiliki kehidupan sebagaimana sebelumnya.
• Terjadinya kiamat adalah disaat insan kamil kembali ke maqam uluhiyah secara totalitas (meninggalkan dunia ini).

Maukah Anda menuju Insan Kamil ?