Gerakan Literasi sebagai Pondasi Peradaban

*Pondasi Literasi Membangun Peradaban*

Mengapa literasi mulai digaungkan kembali?

Pertanyaan itu yang mungkin mengalir di kepala kita. Kalo kita melihat sejarah Jepang. Mengapa Jepang demikian maju tapi penduduknya masih mau membaca dan memegang buku ke mana-mana?

Pernahkah Anda melihat di kendaraan umum dan tempat umum penduduk Jepang asyik membaca buku?

Apa bedanya dengan bangsa Indonesia? Kalo dilihat tahapan masyarakat Jepang dalam sejarah nya. Sebelum nya mereka masuki tahap literasi, membaca dan membaca. Anak anak sampai dewasa bergulat dengan buku. Lalu memasuki tahap pertelevisian, mereka bersaing dalam entertainment tapi sudah kuat literasinya. Sehingga mereka tidak begitu banyak terpengaruh dengan hingar bingarnya dunia pertelevisian. Lanjut  tahapan robotics, hasil literasi yang dibangun di awal dan sudah menjadi budaya mereka menghasilkan karya dunia robotics. Dan di dekade 2000 an mereka sudah memasuki era digital dan IT.

Bagaimana halnya dengan Indonesia? Dari sejarah pendidikan masyarakat, baru melek huruf dengan gerakan berantas buta huruf dan belum begitu kuatnya budaya membaca, pada tahun 1995 sudah hadir dibukanya TV swasta, yang sebelumnya hanya TVRI yang menguasai dunia jurnalistik. Setelah TV swasta menjamur, sedangkan anak-anak belum terbiasa dengan gerakan membaca, mereka sudah asyik disuguhi tontonan tontonan menarik. Akhirnya buku semakin ditinggalkan. Tidak berapa lama muncul lah tahapan maraknya dunia gadget dan IT yang demikian canggih. Semakin jauh lah anak-anak dengan buku. Masyarakat kita melompati tahapan budaya literasi , sehingga dampaknya buku makin ditinggalkan.

Sekarang apakah harus berdiam diri? Tentu tidak, walaupun agak berat tapi *tidak ada kata terlambat*. Gerakan ini mulai digaungkan di sekolah -sekolah. Bagaimana siswa mau membuka bukunya demi mendapatkan pengetahuan dan wawasan.

Ada beberapa strategi dalam menerapkan pondasi literasi di masyarakat.

Pertama, tanamkan pada orang dewasa khususnya orang tua dan guru untuk membiasakan membaca dalam sehari selembar atau beberapa lembar. Tinggalkan gadget sejenak, pegang buku dan baca. Orang tua sisihkan uang dan waktu untuk pergi ke toko buku untuk mendapatkan buku-buku yang menyenangkan dibaca.

Kedua, sekolah juga memfasilitasi dengan perpustakaan dengan buku buku yang menarik tidak hanya buku teks pelajaran.

Ketiga, pemerintah  memfasilitasi dengan peraturan , gerakan literasi yang berkesinambungan dan apresiasi terhadap pelaku dan pendukung gerakan ini.

Keempat, kerjasama semua instansi baik negeri mau pun swasta/bisnis untuk menggerakkan penulisan, penerbitan buku-buku fiksi mau pun non fiksi dengan melindungi hak cipta nya.

Dengan menyusun kembali pondasi literasi akan sangat mungkin membudayakan gerakan ini sebagai bekal bersaing dengan masyarakat dunia.

Saya yakin masyarakat Indonesia sangat sarat potensi kebaikan dan keahlian dengan pondasi literasi maka mari kita dukung gerakan literasi di lingkungan kita. *Hidup Literasi*

#gerakanliterasi
#menjadipendidikinsankamil
Dapatkan buku MPIK di TB. Gramedia