Sabtu tanggal 8 Juli 2017, sebuah catatan harianku.

Baru beberapa pekan diinvite sebuah grup alumni bahasa Arab Ikip Jakarta angkatan 93. Wah angkatan lama nih. Mungkin begitu yang Anda pikirkan. Tapi memang tidak salah bahwa sebuah angkatan yang sangat berkesan. Bukan hanya karena anggotanya yang kompak walaupun dari berbagai latar belakang. Hingga sekarang mereka masih menjalin silaturahim.

Pertama dipertemukan di grup Literasi dengan seorang dosen muda yang tak lagi muda. Hehehe. Sebut saja om Dedi. Berkat beliaulah kami dipertemukan lagi di grup Bahasa Arab angkatan 93. Loh kok, memang masih diakui sebagai anggotanya? Padahal  saya termasuk yang ‘murtad’ dari bahasa Arab, meminjam istilah ustad Fahmi. Karena saya tidak melanjutkan kuliah saat semester 6. Dan menyelesaikan kuliah di program bahasa Inggris. Tapi Alhamdulillah saya masih diterima dengan baik.

Pertemuan yang mengesankan di media sosial WA. Mempererat yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu bisa menjadi ajang silaturahim . Seperti halnya sahabat – sahabat saya, boleh dikatakan anggota yang hilang kini bersatu lagi.

Ketika Ramadhan tiba, Rahma, sahabat saya wanita yang penuh inspirasi secara qodarullah kami bertemu di Magetan. Tak disangka ternyata anak kami bersekolah di pondok pesantren yang sama. Mudik di kota yang sama, anak di sekolah yang sama. Subhanallah.

Dari sinilah kisah lama seakan terbayang di depan mata. Masa – masa indah perkuliahan terkenang hingga Rahma lah yang membantu proses pernikahan dini saya. Hmm, itulah yang fenomenal dari masa kuliah saya.

Setelah beberapa hari memasuki Syawal, ada ide spontan dari AB Three. Alias Nana, Iti, Unaeni. Mereka akan bertemu halbil istilahnya.
Tercetus kenapa tidak sekalian saja undang yang lain yang bisa hadir. Dan, tralala… Hari yang ditunggu pun tiba.

Sabtu, 8Juli ini hari bersejarah dalam dunia angkatan 93. Setelah sekian lama rencana reuni akhirnya terealisasi di tempat Nana. RM H Usman. Berlokasi di daerah Rempoa. Pondok Aren. Tangerang. Reuni kecil yang Akbar ini bisa menghadirkan pejabat – pejabat penting. Orang – orang hebat yang mungkin hari biasa sulit ditemui. Ada ustad Ismail, pemilik yayasan pendidikan. Begitu pula ustad Fahmi. Bunda Yessy, teh Yanti, ustad Untung, ustad Rawi, ustad Mahrus, ustad Herry, ustad Indra, ustad Slamet, ustad Aep para aktivis pendidikan, instruktur nasional,  guru dan dosen. Ada mbak Nana, mbak Erna, mbak Alawiyah, mbak Nining, mbak Umi, mbak Siti, mbak Ikom,  mbak Unaeny, mbak Nita. Barokallah fiikum. Semoga Allah memberkahi ilmu Anda.

Ada kisah unik yang saya rasakan dan lalui selama perjalanan Bekasi-Tangerang. Pernah kenal dengan namanya mbah google map? Di sinilah pengalaman saya mengendarai mobil perjalanan Bekasi – Tangerang menuju lokasi Nana menjadi semakin berliku. Berpatokan dari _share location_ saya bersama Umi dan Nining berangkat jam 10.00 dari tol Bekasi Barat. Sesampainya di exit tol Pondok Aren masih menunjukkan pukul 11.00. Tapi atas petunjuk mbah google kami sempat berputar – putar di gang tikus namun akhirnya kami sampai juga di lokasi pukul 12.30, setelah saya memutuskan bertanya kepada orang. Begitu pula ketika pulang menuju tol Jakarta – Cikampek harus berputar jalan Veteran sebanyak 2 kali. Hehehe. Dari kejadian ini saya menyimpulkan “Janganlah percaya kepada Google, Percayalah hanya kepada Allah”

#follow IG yeti Insan Kamil

#Literasi

Fb yeti Insan Kamil